Duduk di 7/11 dan Membenci

Pada awalnya aku hanya bertanya apa kabar pacarnya, dan dijawab baik-baik saja. Masih saling kontak meski berjauhan, katanya. Pacarnya tinggal di pulau lain.
“Masalahnya di gue, bukan di dia,” dia mulai membuka pertahanannya dengan sebuah kalimat klise yang sering diucapkan orang untuk minta putus dari kekasihnya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Gue takut bakal menikah dengan pria yang seperti bapakku.”
“Bapakmu kenapa?”
“Menyebalkan. Benci gue!”
Lalu mengalirlah ceritanya yang sebenarnya tidak begitu ingin aku dengarkan. Aku hanya berniat menraktirnya minum dan ngobrol ngalor ngidul.
Dia selalu baik kepadaku. Sering dia menraktirku dan aku pikir tak ada salahnya sekali-sekali membalas budi baiknya.
Karirnya bagus. Dia tinggal di apartemen sendiri di pusat kota. Aku tak pernah tahu dia menyimpan bara kemarahan. Di mataku dia perempuan baik, cerdas, dan supel. Dia tak pernah bilang, tapi aku tahu dia lulus cum-laude dari sebuah kampus negeri di Jawa, setelah tak sengaja menemukan namanya di Google.
Dia sama sekali tidak tampak bermasalah.
“Selama bapakmu tidak pernah menyakiti ibumu, dia masih bisa dimaafkan,” kataku, yang kemudian kusadari betapa absurdnya pernyataan ini. Seperti apa menyakiti itu? Hanya sebatas fisik? Bagaimana dengan kekerasan psikis?
Dia menggeleng sambil mempermainkan botol jus selasihnya yang hampir kosong.
Kesalahan apa yang diperbuat seorang ayah sehingga anak perempuannya bisa membencinya sedemikian?
“Lo tau, Bang, gue bahkan takut ntar kalu gue nikah gue punya anak perempuan. Gue takut ntar dia kayak gue. Berantem melulu sama Bapak..”
Dan air matanya menetes. Aku meloleh ke kiri-kanan. Ada banyak orang selain kami di tempat ini, dan pemandangan seorang perempuan menangis di depan seorang pria sangat berpotensi untuk di-salahtafsir-kan.
Kemarahan adalah bentuk keterlibatan emosional yang paling sejati. Dan dengan demikian, menurutku, perempuan ini sangat mencintai ayahnya.
Lalu aku membayangkan, di sebuah kamar yang gelap, seorang ayah meratapi kesepiannya. Dulu, dia adalah ayah yang pernah mencoba berbagai cara menggendong dengan bergantian menaruh kepala mungil itu di lengan kiri, dan lengan kanannya menyangga tubuh kecil itu. Atau sebaliknya, lengan kanan menyangga kepala dan lengan kiri menyangga badan. Semua dia coba. Dia ingin memastikan bayi perempuannya –yang kini tumbuh dengan kemarahan itu– tidur senyaman mungkin.
Adapun di sini, River, tempat ini terang sekali. Di plafon, lampu neon berjejer barangkali setiap satu meter. Aku jadi teringat pada cerita Hemingway tentang sebuah “Tempat yang Bersih dan Lampunya Terang“. Mungkin tempat ini yang dia maksud.



January 21st, 2012 at 11:57 pm
wah mntabs gan
January 22nd, 2012 at 9:11 am
goooood
January 22nd, 2012 at 4:10 pm
hmmm.. suatu saat bang ochan aku yakin dia “mungkin” akan akur dengan bapaknya, tinggal menunggu waktu saja..
January 22nd, 2012 at 10:02 pm
Peran keluarga memang penting dalam membangun paradigma seorang anak terhadap kedidupan masa depannya…
January 25th, 2012 at 3:09 pm
wuiiickkkk!!!!
January 26th, 2012 at 1:51 pm
tulisan yang bagus dan menarik.. salam sukses
January 26th, 2012 at 5:11 pm
jadi pengen ditraktir minum…
February 6th, 2012 at 7:18 pm
yuk, mas. kapan?
February 3rd, 2012 at 8:23 am
gak jelas
February 4th, 2012 at 10:52 am
Wuihhh… aku merinding baca tulisan ini…
banyak pelajaran yang aku petik…
makasi banyak ya. salam kenal
February 14th, 2012 at 6:57 pm
Nyatanya, lampu neon yang berjejer tiap meter itu tidak mampu mengalahkan kesuraman yang tertulis disini. Mantap!