blogdetik.com Daftar Blog
rss
email
twitter
facebook
  • Me
  • River’s Corner
  • River’s Bookshelf
My Life for My Son

Someone’s Grandpa

Posted on Jan 16 2012 by riversnote

River, kamu tidak punya kakek. Kakekmu dari pihak ayah wafat tahun 2006, dan kakekmu dari pihak ibu wafat jauh sebelumnya. Sekarang cuma ada foto-foto yang bisa kamu lihat, juga beberapa cerita dari kami yang mudah-mudahan tidak bosan kamu dengarkan.

Dan sekarang, aku tidak bercerita tentang kakekmu. Aku ingin bercerita tentang kakek orang lain.

Beliau seumuran bapakku. Tapi tampak lebih sehat dibanding umurnya. Aku percaya bahwa hidup yang keras bisa menempa seseorang dengan dua pilihan akhir. Terbunuh atau menjadi lebih kuat. Dan kakek yang aku ceritakan ini berhasil memilih yang terakhir. Hidupnya memang keras, dan itu membuatnya kuat.

Lepas SMA, ayahnya sakit dan ibunya tak punya pekerjaan. Berbekal kotak selebar badannya, dia menjajakan perhiasan imitasi di depan pasar Tanah Abang. Begitu setiap hari dia bekerja mencari makan.

Hidupnya berubah setelah pada suatu hari seorang berseragam hijau menendang kotak jualannya. Ada penertiban. Dagangannya hancur, berserakan bercampur lumpur.

Dalam kesedihan dan kemarahan, dia menengadah ke langit. Menggugat Tuhan.
“Maksud-Mu apa? Saya ini miskin. Bapak saya sakit. Dan Kau kirimkan orang-orang ini menghancurkan nafkah saya!” teriaknya.
Anehnya, di kerumunan itu, dia melihat orang-orang yang membantu memunguti barang dagangannya, membersihkan dan mengembalikannya ke kotak.

Berhari-hari setelah itu, dia tidak lagi bekerja. Modalnya habis. Namun dia selalu teringat pada orang-orang yang membantunya memunguti barang dagangannya. Sepatu lars dan orang-orang kecil. Kejadian itu membuatnya berpikir, kekuasaan bisa menjadikan seseorang menjadi sedemikian buruk namun orang-orang baik akan selalu ada.

Saat termangu di depan rumahnya, seorang gelandangan lewat. Tubuhnya sehat tapi bajunya compang camping. Meski demikian, sang gelandangan ini sama sekali tak mengemis.
Sesuatu menggerakkannya masuk ke dalam rumah, mengambil satu pasang dari tiga pasang pakaian yang dipunyainya, membungkusnya dan menyerahkannya kepada gelandangan itu. Tak ada obrolan apa-apa di antara mereka. Ucapan terima kasih pun tidak.

Sepeninggal gelandangan itu, sebuah surat panggilan tiba-tiba datang. Anak muda pengangguran ini dipanggil oleh sebuah kantor bank internasional yang baru membuka kantor di Jakarta. Bersamaan dengan panggilan itu, bank ini mensyaratkan surat keterangan sehat dari dokter yang jadwal pemeriksaannya sudah ditetapkan.

Dan bersamaan dengan hari pemeriksaan itu, ayahnya yang sudah lama sakit akhirnya meninggal. Lengkap sudah kesedihannya.

“Kami sangat miskin. Saking miskinnya, Bapak tidak bisa disemayamkan di dalam rumah karena rumah kami sangat kecil,” katanya bercerita.

Di ruang periksa, dokter melihat anak muda ini remuk oleh sakit dan kesedihan.
“Kamu kenapa?” tanya dokter itu.
“Bapak saya meninggal,” katanya.
“Bapak kamu meninggal dan kamu ada di sini?”
“Saya butuh pekerjaan, Dok..”
Dia menangis nyaris putus asa.
Dokter lalu menuliskan di surat keterangan: sakit tapi bisa diobati.

Surat keterangan itulah yang kemudian mengantarkannya memasuki sebuah gedung di Jalan Thamrin 57. Itu sekitar tahun 1967.

Di kantor ini dia mendapat pekerjaan sebagai pesuruh. Tugasnya adalah menjaga gudang stationery.
Suatu hari, ketika pegawai-pegawai baru sedang menjalani training, dia ikut berdiri di depan pintu ruangan, mencatat apa yang didengarkannya. Sebagai pegawai non-klerikal, dia tidak boleh ikut training.
Tiba-tiba, entah iba entah apa, seorang pengawas yang melihatnya menegurnya. “Hei, ngapain kamu di situ. Masuk!”

Begitulah cerita ini berawal. Orang yang aku ceritakan padamu ini, Nak, akhirnya keluar dari kantor bank ini belasan tahun kemudian. Sebagai Vice President. Inilah jabatan tertinggi yang bisa dipegang oleh orang pribumi di bank internasional ini.

From Zero to Hero. Begitulah orang biasa menyebutnya. Tapi dia malah jengah dengan sebutan itu.

Sabtu kemarin, Nak, aku mengajakmu dan ibumu ke rumah kakek ini. Kita disambut dengan baik. Banyak cerita yang keluar dari mulutnya. Diajaknya juga aku melihat album foto.
Dan kamu, Nak, asyik bermain dengan Ana. Ana adalah salah seorang dari 37 anak yang tinggal di rumahnya. Ana umurnya sekitar 3 tahun, dia dibawa ke rumah kakek ini setelah ditinggalkan seseorang di depan sebuah toko pakaian.

Di rumah ini, semua memanggilnya Papa, kecuali 4 cucu yang memang lahir dari anak kandungnya. 37 anak itu berasal dari berbagai latar belakang. Mulai dari nobody’s child seperti Ana, anak dari ayah Korea yang tak mau bertanggungjawab, hingga anak terbelakang mental yang ditinggalkan di atas bus. Semua dipelihara dan disayanginya seperti anak sendiri.

“Bukan asal mau berbeda, tapi saya lebih suka menjadi From Zero to Zero. Ini tujuan semua orang, bukan? Alangkah indahnya bila kita bisa meninggalkan dunia ini tanpa beban. Makanya saya tidak pernah tertarik menjadi politikus atau apapun. Saya sudah cukup bahagia dengan ini semua. Menjadi Nol…” katanya.

Dan aku percaya kepada ketulusannya, seperti tulusnya doa yang dia ajarkan kepada anak-anak itu.
“Ya Allah, ampuni dan sayangilah kedua orangtuaku…” begitu mereka mengulang doa selepas shalat magrib itu. Ada 15 anak laki-laki dan selebihnya perempuan yang makmum di belakangku. Anak yang ditinggalkan di atas bus Mayasari itu juga membaca doa yang sama.
Rabbighfir lii waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa

Dan tak terasa air mataku menetes, Nak. Semoga kelak kau pun mendoakanku dengan tulus, dan memaafkan kesalahan-kesalahanku karena selalu membawamu ke jalan semacam ini.
Jalan yang orang lain tak selalu bisa mengerti.


6 teman anda menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
Suka tulisan ini

13 Comments

  1. putrasby says:
    17/01/2012 at 2:22 am

    bagus ceritanya ……

    Reply
  2. indonnovo says:
    17/01/2012 at 12:47 pm

    *thumbs up*

    Reply
  3. nobody says:
    17/01/2012 at 1:17 pm

    inspiring. zero to zero.

    Reply
  4. Muflie says:
    17/01/2012 at 1:40 pm

    Pak Houtman Z. Arifin kah??

    Reply
    • riversnote says:
      17/01/2012 at 1:42 pm

      iya, mas. :-)

      Reply
      • Muflie says:
        17/01/2012 at 1:46 pm

        hmmm,,, never ending story ttgnya, meski sering diulang tapi selalu menyentuh dan menggerakkan hati untuk dapat menjadi pribadi yg lebih baik. nice story *i’m a female anyway : )*

        Reply
        • riversnote says:
          17/01/2012 at 2:43 pm

          betul. btw, maaf, mba. gak ada link-nya soalnya. :-) salam kenal…

          Reply
  5. Rizky Prawinto says:
    17/01/2012 at 3:33 pm

    Menyentuh sekali :)

    Reply
  6. amathonthe says:
    17/01/2012 at 4:01 pm

    Jadi nangis juga bang Ochan, sedih banget

    Reply
  7. Riyadi says:
    16/02/2012 at 10:03 pm

    mrebes mili aku moco critane…..

    Reply
  8. alia says:
    14/05/2012 at 12:50 am

    senang banget.. bisa membaca blognya, mas fauzan. setiap malam, setelah anak saya tertidur, sy membaca satu demi satu tulisannya. kadang tersenyum.. kadang jg menangis.. :D
    oh ya mas, jg ttg pak Houtman Z.Arifin. Sy sering bgt membacanya di berbagai tulisan.
    mas fauzan, jika kami ingin mengundangnya sbg pembicara.. apakah, mas fauzan memiliki link/ cara utk mengundang beliau?
    kebetulan, kantor kami ingin mengundang pembicara yg bs mjd inspirasi.
    makasih sblnya, atas apapun informasi yg nanti diberikan… :D salam, alia.

    Reply
  9. adhy lau says:
    21/12/2012 at 3:27 pm

    Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun..Yaa Allah, Yaa Rabb.. Satu lagi hambamu yang shaleh telah Kau ambil kembali ke pangkuan kasih sayang-Mu, begitu banyaknya anak Yatim-Piatu yg kehlangan beliau, kaum Dhuafa, dan orang2 yg membutuhkan uluran tanganya..terimalah amal ibadah Pak Houtman Z arifin..Sunguh beliau merupakan Inspirator bagi kami untuk giat beribadah padaMu & menolong sesama…lapangkanlah kuburnya & tempatkan ia di surgaMu bersama orang2 shalih..Amien YRA

    Reply
  10. pipit says:
    21/12/2012 at 4:46 pm

    Masya Allah.. suatu kebanggaan bisa mengenal beliau ya Ochan..

    Reply

Leave a Reply

Click here to cancel reply.





River

River setiap hari sibuk bermain-main. Ayah River mencari nafkah dengan jadi buruh media dan jualan buku. Mama River juga bekerja, jadi full-time mom dan nyambi jualan baju dan perlengkapan bayi. Tokonya klik aja foto River di atas atau langsung cekidot ke http://www.facebook.com/riverscorner. Mampir ya.. :-)

Posting Terbaru

  • Keras Pada Diri Sendiri
  • Di Bawah Lindungan Eddie Vedder
  • “Seperti Pak Fathanah, Kita Juga Bukan Kader, Nak…”
  • Suaka bagi Hal-hal Baik
  • Kaleng Susu Dua Lubang
  • Dari Blog ke Toko Buku
  • Lagu Siapa yang Akan Kau Dengarkan?
  • Bunga Merindukan Hening
  • Untuk Apa?
  • Senior Pohon
  • Ustadz Tidak Bisa Datang, Nak
  • Sudah Terpenuhi
  • Siapa yang Mau Bayar Lebih?
  • Duduk di 7/11 dan Membenci
  • Sekolah yang Jauh Dari Rumahmu

Archives

Komentar Terbaru

  • Mauizzah on Suaka bagi Hal-hal Baik
  • pipit on Someone’s Grandpa
  • adhy lau on Someone’s Grandpa
  • riversnote on Kaleng Susu Dua Lubang
  • riversnote on Dari Blog ke Toko Buku

Pages

  • Me
  • River’s Bookshelf
  • River’s Corner

113c34d06582170aaa3b4ae8ce435299_logoblog

Google Analytics


  • Me
  • River’s Corner
  • River’s Bookshelf
Powered by Wordpress  |  Designed by WebTreats