Senior Pohon

Nak, hari ini kamu genap berusia 2 tahun menurut penanggalan matahari. Banyak doa untukmu.

Pergantian malam tadi kita sudah merayakannya. Kecil-kecilan saja seperti tahun lalu. Kuenya pun lebih murah dibanding yang kita beli tahun lalu. Tapi senangnya sama saja.

Senang melihatmu tumbuh dan sudah bisa menanggapi omongan kami. Sudah bisa menunjukkan kegembiraan atau kemarahanmu. Sudah bisa mengikuti penggalan kalimat terakhir lagu Redemption Song yang aku nyanyikan sebagai lagu ulangtahunmu. Sudah bisa bikin kesepakatan. Kamu sudah bisa bilang ”Oke!” waktu ibumu bilang, ”River sudah besar, berhenti nenen ya…”, meskipun kemudian kesepakatan itu kamu langgar. Tak apa-apa.

Dua tahun, Nak. Tentu saja masih sedikit yang bisa kami berikan kepadamu. Tapi dari yang sedikit itu kami berharap mudah-mudahan bisa seperti amuba yang membelah diri. Memperbanyak dirinya sendiri, dengan caranya sendiri.

Dan di ulang tahunmu kali ini, izinkan aku menambahkan yang sedikit itu. Aku ingin menceritakan kepadamu tentang celoteh. Sejak kamu di dalam perut ibumu, aku mulai menulis cerita-cerita untukmu. Cerita apa saja dan tersebar di mana saja. Di Facebook, blog, flashdisk, dan lain-lain. Kisah-kisah itu kemudian –dengan berbagai kebetulan—sampai di meja sebuah penerbit. Mereka bilang tertarik menerbitkannya dan menjadikannya buku. Tadinya buku itu direncanakan akan beredar di akhir Februari ini dan aku bisa menjadikannya hadiah ulangtahun untukmu, tapi sesuatu membuatnya tertunda. Kabar terakhir dari mereka, buku itu baru bisa terbit awal bulan Maret. Tak apa ya, Nak. Toh kamu juga belum bisa membaca.

Bahwa cerita-cerita itu kemudian menjadi buku, itu lain soal. Kalau mau jujur, sebenarnya aku malu, Nak. Malu karena semua yang aku tulis itu tidak melulu soal kebajikan dan pengembangan diri sebagaimana halnya buku yang laris manis di toko buku. Jangan berharap tulisan-tulisan ini akan menjadikanmu segera bijak bestari seperti Mario Teguh atau kaya raya seperti Ippho Santosa. Tidak ada itu, Nak. Malah yang akan kau temukan adalah kenyataan tentang betapa lemah dan terbelakangnya aku, ayahmu ini, dalam banyak hal. Sering aku bercerita kepadamu tentang hal besar sambil berharap akan kelihatan keren, tapi toh sesungguhnya yang akan terbaca adalah kedangkalan pengetahuanku. Pernah pula aku menceritakan tentang hal-hal transenden dan sufistik, tapi sebenarnya aku hanya berusaha menggapai-gapai di permukaan. Berpuntir-puntir di kebodohan yang dhaif. Di tulisanku yang terakhir, aku malah kena tegur oleh abangku karena menurutnya aku mengajarkanmu menghakimi orang lain. Mungkin ia benar. Tapi bisa jadi juga salah.

Nak, di kampusku dulu, ada sebatang pohon yang tumbuh di tanah lapang antara Fakultas Sospol dan Fakultas Ekonomi. Aku tak pernah tahu itu pohon apa karena tak pernah aku lihat dia berbuah. Yang pasti dia besar dan tua.
Belakangan, tanah lapang itu menjadi area pasar, tempat mace-mace (sebutan untuk ibu-ibu pedagang makanan atau minuman) berjualan. Mereka dikumpulkan oleh pihak kampus karena selama ini berjualan di koridor-koridor dan dianggap mengganggu pemandangan. Pasar ini, tepat di bawah pohon besar itu, kemudian menjadi ramai. Menjadi tempat kumpul mahasiswa-mahasiswa menunggu kuliah atau sekadar menggoda junior.

Mahasiswa-mahasiswa semester awal, terutama yang cewek-cewek, sering dimobilisasi ke bawah pohon itu untuk mendengar senior-seniornya berceloteh. Konon pada suatu hari, seorang mahasiswa semester akhir yang sedang galau memberi pengarahan kepada adik-adik mahasiswa baru yang sedang belajar bergaul. Maka diperkenalkannya satu per satu semua yang ada di situ. Termasuk kepada pohon.
”Pohon ini sudah ada lebih duluan dari kita semua yang ada di sini. Maka kalian wajib memanggilnya senior,” begitu katanya. Maka jadilah pohon itu berjuluk ”Senior Pohon”. Sampai sekarang.

Begitu, Nak. Seperti pohon itu, sebagian cerita yang pernah aku tuliskan kepadamu, sudah ada jauh sebelum kamu atau bahkan aku sendiri –bila yang kita maksud adalah intisarinya— ada. Aku hanya mengulang-ulangnya dan berharap tujuannya benar. Sebagian mungkin keliru atau salah tafsir. Namun pada akhirnya kebenaran akan menemukan jalannya sendiri, Nak. Cepat atau lambat.

Sehingga bila ada sesuatu yang tampak tidak masuk akal bagimu, anggaplah aku sedang berkelakar, berlakon seperti mahasiswa galau yang menyuruh juniornya menghormati Senior Pohon. Karena memang bisa jadi, kita tidak pernah menjadi lebih tua dibanding siapa pun bila hitungannya adalah ilmu dan kebijaksanaan. Dan untuk itu kita wajib berlaku hormat.
Akhirul kalam, izinkan lagi ayahmu ini menyadur bebas sebuah lagu dari Pearl Jam:
”I hope someday you’ll have a beautiful life and be a sun in somebody else’s sky…”

Selamat ulang tahun, River anakku sayang.

Love,

Ayah—


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

One Response to “Senior Pohon”

Leave a Reply