blogdetik.com Daftar Blog
rss
email
twitter
facebook
  • Me
  • River’s Corner
  • River’s Bookshelf
My Life for My Son

Bunga Merindukan Hening

Posted on Apr 8 2012 by riversnote

Sebut saja namanya Bunga. Perempuan berusia 27 tahun ini tinggal dan bekerja di Jakarta. Sesekali bila ada waktu luang, dia suka nongkrong di 7/11 atau Anomali, kafe tempat dia sering menjalankan ritual yang disebutnya “ngopi-ngopi lucu”. Hidupnya amatlah senang, meski tak selalu dipangku piara Bunda. Kira-kira seminggu yang lalu dia menulis di status Blackberry-nya: “Tiba-tiba merindukan keheningan di sebuah pulau.”

Aku ingin menceritakan semua kepadamu, tapi sebagaimana lazimnya hal yang berlaku, ada baiknya aku sampaikan dulu latar belakang dari lanturan ini.
Begini ceritanya.

Ada truk yang mogok di jalur Kappang, tak jauh dari batas luar cagar alam Karaenta. Truk gandeng bermuatan paku-paku beton raksasa itu tiba-tiba berhenti bergerak di jalan sempit. Tidak hanya itu, muatannya pun ikut tumpah dan melintang di tengah jalan. Seperti ada robot Transformer yang baru saja menjatuhkan baut dan stang sehernya, jalan yang menghubungkan Kota Makassar dan Kabupaten Bone ini tidak menyisakan sedikit pun celah untuk dilalui oleh kendaraan roda empat.

Mobil yang aku tumpangi kira-kira berada di urutan 56 bila dihitung dari mobil yang paling dekat dengan TKP. Sejam dua jam menunggu, beberapa mobil sudah tak sabar dan segera memutar arah.

“Kalau tidak terlalu penting, pulangmiki‘ saja. Saya dari jam 2 di sini, kata seorang sopir mobil double cabin yang baru saja memutar arah dan melewati mobil kami. Aku melirik jam di handphone-ku. Pukul setengah empat sore dan kami bahkan belum melewati batu pal 60 kilometer dari Makassar.

“Kita putar saja, lewat Bulu Dua,” kata Anas, sopir mobil travel yang aku tumpangi, “Ini pasti lama, polisi sibuk jaga demo. Tiga jam lagi belum tentu beres…
Sebagai penumpang yang baik, aku hanya bisa mengiyakan. Samar-samar yang aku ingat bahwa Bulu Dua seperti yang disarankan Anas berada di jalur poros Kabupaten Barru dan Soppeng. Artinya, untuk mencapai Kota Watampone yang menjadi tujuan kami, mobil harus memutar balik ke Maros, terus melewati wilayah Kabupaten Pangkep, Barru, Soppeng, dan tembus di Lappariaja. Dengan jalur memutar sejauh itu, kami setidaknya akan kehilangan 2-3 jam waktu perjalanan. Aku berharap mudah-mudahan belum terlalu malam saat kami mencapai Lappariaja. Di sana kami mungkin bisa singgah di rumah mamanya Ara untuk sekadar minum secangkir dua cangkir teh.

Dan aku pun tertidur.

Begitu terbangun dari tidur yang tidak sempurna, aku merasakan sinar matahari menerabas melewati kaca samping. Di sebelah kiriku, di atas hamparan tambak, si empunya cahaya sedang bertengger. Sebentar lagi tenggelam. Adapun roda mobil, sedang berjuang melewati jalan beton yang tak terlalu rata sehingga menimbulkan bunyi jeleguk-jeleguk-jeleguk.

Oh, rupanya kami sudah sampai di Bungoro. Dan atas nama lanturan pula maka akan aku ceritakan sedikit tentang kampung ini.

Tahun 1972, seorang pemuda berusia 20-an tahun meninggalkan kampung halamannya untuk sebuah ekspedisi meredam pedih. Kita sebut saja namanya Daeng Abu. Cerita yang berkembang menyebutkan, Daeng Abu yang berpenyakit kusta diusir oleh orang-orang sekampungnya di Bungoro. Saat itu, penyakit kusta memang seperti penyakit kutukan. Tak bisa sembuh dan harus diasingkan. Bersama istrinya, Siti Maidah, Daeng Abu pun menyusuri laut lepas menuju ke arah barat, meninggalkan Bungoro, hingga sampai ke Pulau Cangke.

5c9b28e4fb87e6eb14a3e8f15435c1a8_pulaucangke3

Siti Maidah mengenang, betapa keras cobaan yang harus dilewatinya agar bisa tetap bersama Daeng Abu. “Teri manengngi silessurekku… na samatta diabbeang… kata Siti Maidah, menggambarkan kesedihan sanak saudaranya yang melihatnya seolah-olah seperti orang terbuang. Namun Siti Maidah tidak menyerah. Cintanya kepada Daeng Abu masih jauh lebih besar dibanding ombak laut Sulawesi sekalipun.

Di pulau kecil yang hanya kira-kira seluas satu lapangan bola ini, Daeng Abu dan Siti Maidah memanfaatkan apa saja untuk bertahan hidup. Daeng Abu memungut pelepah pohon kelapa, papan dan seng yang hanyut terbawa arus untuk membuat tempat berteduh, sekadar berlindung dari angin laut dan memberi rasa hangat pada orang yang paling disayanginya.

Selama tinggal di Pulau Cangke, Daeng Abu dan Siti Maidah dikarunia enam orang anak, namun lima orang anak meninggal karena sakit. Kini hanya tinggal Sakka, anak semata wayangnya yang berhasil melewati masa dewasa. Sakka kini sudah berumah tangga dan tinggal di Pulau Palla, sebuah pulau kecil tak jauh dari Pulau Cangke. Sesekali Sakka datang ke Pulau Cangke untuk menengok dan membawakan bahan makanan untuk orangtuanya.
Jika Sakka tak menyambangi Pulau Cangke, berarti hanya ada Daeng Abu dan Siti Maidah saja di pulau ini. Pulau yang dulunya menjadi suaka bagi mereka, kini telah menjadi semacam kerajaan yang hening. Tak ada gangguan. Hanya ada mereka berdua, debur ombak, dan cahaya bulan. Di hari-hari tertentu, serombongan mahasiswa sering datang untuk sekadar bertandang atau melakukan penelitian. Dari merekalah biasanya Daeng Abu juga mendapatkan tambahan perbekalan.
Meski hanya tinggal berdua, Daeng Abu dan Siti Maidah tak pernah merasa kekurangan. Semua yang mereka butuhkan terhampar di halaman depan, samping, dan belakang rumah mereka. Di saat-saat tertentu, mereka berdua mengayuh sampan ke tengah laut mencari ikan. Siti Maidah juga biasanya menyelam mencari rumput laut sementara Daeng Abu menunggu di atas sampan sambil memancing. Kemampuan fisik Daeng Abu memang sudah semakin berkurang. Sejak sekitar dua belas tahun yang lalu, Daeng Abu bahkan kehilangan penglihatannya setelah menyelam untuk menyelamatkan sebuah kapal nelayan yang jangkarnya tersangkut karang.

Daeng Abu memang orang yang baik hati. Dia seperti seorang yang tanpa ego di tengah hiruk pikuk materialisme. Simpang-siur mengenai sebab kedatangannnya ke pulau ini pun selalu ditanggapinya dengan ringan.
“Saya ke sini karena ditugaskan. Dulu pemerintah setempat mencari orang untuk menjaga penyu. Tapi tak ada orang yang mau. Mereka bilang itu pekerjaan apa,” kata Daeng Abu dengan senyum yang seolah ingin mengaburkan kepedihan dan menguburnya dalam-dalam.

Tanggal 24 Mei 2010, Bunga, perempuan yang aku ceritakan di awal tadi berangkat dari Jakarta dan tiba di Makassar pada hari yang sama. Besoknya, bersama seorang kameramen dan tiga orang fixer dari Green Communication Club –kelompok mahasiswa pecinta alam dari sebuah kampus ternama di Makassar– mereka bertolak menuju Pulau Cangke. Dari pelabuhan Paotere, mereka menempuh sekitar 25 mil laut. Perjalanan ini memakan waktu sekitar tiga hingga empat jam dengan perahu motor bila laut stabil.

Beberapa hari sebelumnya, di kantornya di Jakarta, Bunga dan Broto sang kameramen sempat terlibat pembicaraan alot dengan associate producer yang menugaskan mereka dalam sesi pitching. Pitching adalah salah satu proses dalam penugasan liputan saat tim liputan memaparkan rencana liputan sekaligus menunjukkan kelebihan dan kekurangan, termasuk risiko yang akan ditemui di lapangan.
“Ini laut lepas, Bang. Cuma pulau kecil dengan dua orang penghuni, apa menariknya? Nggak ada hotel, gue mau pup di mana?” kata Bunga. Tapi sang associate producer yang tampan itu bisa meluluhkan dan meyakinkan Bunga bahwa kisah Daeng Abu dan Siti Maidah ini layak diangkat ke layar kaca.
“Sesekali kita perlu cerita seperti ini. Sudah terlalu banyak yang palsu di televisi. Orang butuh yang lain, yang semacam ini, yang tulus. Daeng Abu bisa mengubah pulau yang tandus menjadi hijau, dia juga menjaga karang di sekitar pulau tempat tinggalnya. Ini salah satu contoh hidup yang menyatu dengan alam, tidak berseberangan… ” kata si associate producer yang tampaknya memang sudah bijak dari lahir. Konon, begitu lahir, dia sudah langsung lulus penataran P-4 pola 27 jam. Pantas.

Kurang lebih seminggu setelah penugasan itu, sesampainya di kantor, sang associate producer dibisiki oleh Broto, kameramen yang menemani Bunga bertugas di Pulau Cangke.
“Waktu mau balik ke Jakarta, Bunga nangis di pesawat, Bang. Berat banget kayaknya dia ninggalin Cangke…” kata Broto yang tiba-tiba menjelma mirip Feny Rose.
“Lha kenapa?” tanya si associate producer yang tak mau kalah dan merasa dirinya penonton acara gosip paling militan.
“Nggak tau, mungkin gara-gara tiap malam dia nongkrong berdua di pinggir pantai depan rumah Daeng Abu.”
“Berdua sama siapa?”
“Ada deh, nanti lo juga bakal tahu, Bang,” kata Broto yang kali ini tidak lagi mirip Feny Rose melainkan intel BIN yang suka main rahasia-rahasiaan.

Minggu lalu, setelah membaca status Blackberry Bunga tentang kerinduannya pada keheningan sebuah pulau, aku menduga bahwa Pulau Cangke-lah yang dia maksud. Belakangan tersiar pula kabar bahwa bulan depan Bunga akan kembali berkunjung ke Pulau Cangke. Gosip dari sang associate producer yang tak lain adalah diriku sendiri berbunyi, Bunga ke sana bukan untuk tugas liputan melainkan untuk merayakan dua tahun menyatunya dua hati yang disaksikan debur ombak dan sinar bulan.

Ahai, Pulau Cangke memang bukan hanya sekadar pulau kecil di tengah lautan luas. Pulau Cangke, melalui Daeng Abu dan Siti Maidah, juga menjadi salah satu tempat belajar bagaimana merawat dan memelihara cinta.
Jadi pesanku, berkunjunglah ke sana kapan-kapan. Barangkali akan kau temui dirimu sendiri adalah Bunga yang sedang melewatkan malam bersama seseorang, bermain-main dengan serpihan ombak di depan rumah Daeng Abu.

Adapun aku, setelah memutar sejauh ini, akhirnya melewati Lappariaja dan sebentar lagi akan mencapai Kota Watampone. Beri aku jeda nafas sebentar, mungkin dari sana ada cerita menarik lain yang bisa aku ceritakan kepadamu.

–foto Pulau Cangke by Ahmad Syarif


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
Suka tulisan ini

9 Comments

  1. wira says:
    08/04/2012 at 1:30 pm

    Kayaknya pulaunya cantik banget ya bang, pasir putih, pohon pinus, angin sepoi2. Konon gosip yang beredar yang dateng kesana bisa nemu jodoh trus bakal hidup bahagia selamanya kayak Daeng Abu dan Siti Maidah. Bener kagak tuh bang? :D

    Reply
  2. ucheng says:
    08/04/2012 at 4:39 pm

    saya rindu catatan yg begini rupanya… luar biasa kanda!!!

    Ahhh, kau mulai membuatku memiliki hal yang patut kurindukan :: Buah penamu. | Salam kenal :D

    Reply
  3. Dewi Retnowati says:
    09/04/2012 at 12:29 pm

    Cantik betul tulisannya.. Jempol buat abang yang bijak dari lahir! Maybe I will put Cangke Island in my trip planner ….

    Reply
  4. qashwa says:
    13/04/2012 at 3:32 pm

    qashwa travel adalah partner asia wisata (PT.Khalifah Intl.) yg menyediakan jasa Reservasi online 24 jam tiket pesawat terbang dalam negeri(Garuda, Merpati, citylink, batavia, srwijaya, lion air,kartika air, riau air) dan luar negeri (Air Asia, Chatay Air, Singapore Air, Qatar airline, Malaysia airline, dll) melalui tlpn genggam anda utk mempermudah kegiatan bisnis anda, jika anda seorang yg memiliki bisnis dmn2 yg membutuhkan wktu cepat mka kami adalah pilihan yg tepat buat anda utk menyediakan tiket pesawat anda. Untuk Reservasi please call: 6281341511285, pin 26BD997C atau email: qashwa_travel@yahoo.co.id/harmuddin_hamaa@yahoo.co.id/YM :hamaa_harmuddin@yahoo.co.id
    http://www.qashwa4urtravel.page4.me

    Langkah pemesanan:
    1.) kirimkan jadwal penerbangan anda(tgl dan jam), maskapai, data diri sesuai ID, no ponsel, selanjutnya sms ke no kami atau email/YM.Setelah itu kami akan mengirimkan kode booking dan detail pemesanan anda lewat email atau sms.
    2.) Transaksi pembayaran tiket, melalui Rek. BNI an: Harmuddin Hamaa No. Rek: 0245853619.
    3.) Issued Tiket, Kami akan mengirimkan Tiket anda berupa Elektronik Tiket (E-tiket) via email anda.

    Berikut daftar nama-nama yg menggunakan jasa layanan kami:

    1.Mr. Amir Hamzah (MDGMMN)Palembang-Jakarta
    2.Mr. Satria Patikawa (CXBTRY) Jakarta-Medan
    3.Mr. Laode Muh. Sarfian (HCETS) Banjarmasin-Makassar (Ujung Pandang)
    4.Mr. Karimudin (FIDSDG) Jakarta-Ambon
    5.dll

    terimaksih,…qashwa4urtravel

    Reply
  5. viakeating says:
    15/04/2012 at 7:39 pm

    jadinya pengen ke pulau cangke..dlm mimpi x ya xixixixixi..!!suasana hening slalu menentramkan hati..:]

    Reply
  6. dudi suswandi says:
    16/04/2012 at 10:03 am

    tempat yang indah dengan hamparan pasir putih, pohon 2 yang diterpa angin sepoi2 membuat hati semakin damai, memang indah ciptaan sang illahi

    tutorial,ebookgratis,seo software

    Reply
  7. puji says:
    17/04/2012 at 9:49 am

    abahku orang asli Sulawesi Selatan. Kakekku pun asli sana.
    dulu pernah punya sahabat pena dari Soppeng, namanya Miranti dan Maltha.
    tapi…
    sampai usiaku ini, aku belum pernah ke sana.
    tulisan ini, membuatku semakin merindukan tempat ini.
    tempat abah dan kakekku lahir.

    Reply
  8. robi says:
    26/04/2012 at 7:20 pm

    bagus banget ni..

    Reply
  9. Ahmad Hanafi says:
    27/04/2012 at 2:28 pm

    Keren Kang,.. !!!!

    Reply

Leave a Reply

Click here to cancel reply.





River

River setiap hari sibuk bermain-main. Ayah River mencari nafkah dengan jadi buruh media dan jualan buku. Mama River juga bekerja, jadi full-time mom dan nyambi jualan baju dan perlengkapan bayi. Tokonya klik aja foto River di atas atau langsung cekidot ke http://www.facebook.com/riverscorner. Mampir ya.. :-)

Posting Terbaru

  • Jaringan Mading Krucil Indonesia
  • Keras Pada Diri Sendiri
  • Di Bawah Lindungan Eddie Vedder
  • “Seperti Pak Fathanah, Kita Juga Bukan Kader, Nak…”
  • Suaka bagi Hal-hal Baik
  • Kaleng Susu Dua Lubang
  • Dari Blog ke Toko Buku
  • Lagu Siapa yang Akan Kau Dengarkan?
  • Bunga Merindukan Hening
  • Untuk Apa?
  • Senior Pohon
  • Ustadz Tidak Bisa Datang, Nak
  • Sudah Terpenuhi
  • Siapa yang Mau Bayar Lebih?
  • Duduk di 7/11 dan Membenci

Archives

Komentar Terbaru

  • Mauizzah on Suaka bagi Hal-hal Baik
  • pipit on Someone’s Grandpa
  • adhy lau on Someone’s Grandpa
  • riversnote on Kaleng Susu Dua Lubang
  • riversnote on Dari Blog ke Toko Buku

Pages

  • Me
  • River’s Bookshelf
  • River’s Corner

113c34d06582170aaa3b4ae8ce435299_logoblog

Google Analytics


  • Me
  • River’s Corner
  • River’s Bookshelf
Powered by Wordpress  |  Designed by WebTreats