Lagu Siapa yang Akan Kau Dengarkan?
Lagu siapa yang akan kau dengarkan ketika besar nanti, Nak?
Pertanyaan itulah yang sering terpikirkan setiap kali melihat kotak berdebu itu. Kotak bekas kemasan kaset Mini DV, tempatku menyimpan beberapa hal yang dengan semena-mena aku sebut memorabilia. Tempat di mana sebagian kenangan tentang kegembiraan dan keresahan masa mudaku aku simpan. Suatu hari nanti mungkin masih ada kau temui sisa-sisanya. Mungkin 1 album Ten, 1 album bergambar alpukat jika masih ada, dan buku Heavier Than Heaven yang ditulis Charles Cross. Atau tidak ada apa pun.
Barangkali juga akan kau temui pada sebuah album foto, kita berdua –aku dan dirimu yang baru berusia beberapa bulan– berpose dalam balutan t-shirt Pearl Jam. Sama sekali bukan untuk memaksamu menyukai apa yang aku pikir bagus. Aku bisa membayangkan betapa tak nyamannya aku jika misalnya ayahku memaksaku untuk menyukai lagu-lagu Eddi Silitonga sebagaimana dia menyukainya. Maka dengarlah, Nak, tak ada pemaksaan di sini. Kamu berhak untuk menyukai atau tidak menyukai Eddie Vedder, atau siapa pun pemuka grunge lainnya.

Tapi izinkanlah aku menceritakan sedikit tentang ini kepadamu. Cerita yang sependek pengetahuanku.
Aku mulai cerita ini dengan sebuah kejadian kecil di bulan November 2009, kira-kira 3 bulan sebelum kau lahir.
Pada suatu hari Minggu sore, aku membawamu ke konser pertamamu. Hanya sebuah pertunjukkan musik kecil sebenarnya, tapi mari kita sepakat menyebut itu konser. Digelar di bawah hujan gerimis di sebuah mini stage di Parkir Timur Senayan. Bittertone membawakan lagu-lagu Pearl Jam. Kami semua, penghayat dan pengamal selai mutiara, mendengarkan dengan khusuk. Ibumu duduk di kursi, yang sengaja kusiapkan agar dia tak terlalu lelah menopangmu yang dikandungnya. Di sampingnya, seorang ibu muda yang juga sedang hamil, juga duduk di kursi. Lihatlah, mereka berdua adalah korban selera suami. Suami wanita muda itu berdiri di depan, mengawasi anaknya yang masih balita yang berlarian ke sana-kemari. Di bajunya –bocah mungil itu- tersemat sebuah pin PJID. Pearl Jam Indonesia.
Sedang aku, suami ibumu, berdiri tak jauh dari ibumu. Takut kenapa-napa. Ini gempuran speaker raksasa pertamamu. Sebagai suami siaga, aku harus pandai membaca tanda-tanda. Aku harus sigap membawa ibumu menjauh jika dia menunjukkan tanda-tanda bosan atau tak suka. Tapi ibumu tenang-tenang saja, dan kamu juga, River. Bahkan hingga lagu Alive dan Yellow Ledbetter yang fenomenal itu.
Yellow Ledbetter. Inilah lagu yang membantuku melewati masa-masa sulit di zaman kuliah. Bagiku, ini adalah hymne yang hampir mantra, sekalipun aku tak benar-benar mengerti liriknya tentang apa. Tapi itulah Pearl Jam. Engkau tak harus mengerti untuk menyukainya. Seperti halnya kau tak akan mengerti Mohammad siapa yang mereka maksud di lagu Not For You.
Restless soul, enjoy your youth. Like Mohammad hits the truth!
Begitulah Eddie Vedder berteriak. Eddie sendiri pun tak pernah mengkonfirmasi Mohammad siapa itu. Tapi secara pribadi, aku menduga itu adalah Rasulullah Muhammad SAW, mengingat kedekatan Eddie Vedder dengan Yusuf islam a.k.a Cat Steven dan Nusrat Fateh Ali Khan. Ini analisaku saja, yang sudah pasti jauh dari kebenaran.
Mungkin kamu bertanya, mengapa harus Pearl Jam? Ada jutaan band bertebaran di kolong langit ini, mulai dari yang menye’-menye’ seperti ST 12 hingga yang garang seperti Cradle of Filth. Kenapa harus Pearl jam?
Pada awalnya aku menyukai Nirvana. Sekelompok anak muda yang seolah-olah baru saja keluar dari rumah sebelah dan tiba-tiba muncul di dalam kotak TV. Anak muda yang seperti kami. Tampak terluka dan tersisihkan, tapi justru memberinya hak untuk berteriak semaunya. Abang yang lebih tua memberi tahu kepadaku bahwa itu adalah grunge. Tak pernah bisa aku pahami maknanya sampai kini selain bahwa itu adalah sebuah sub-genre musik alternatif yang mencoba tampil beda dengan grup-grup musik besar yang salon dan snob. Yang pasti, telah terpatri di kepalaku saat itu bahwa grunge adalah perlawanan. Pemberontakan.
Grunge, melalui petanda Kurt Cobain, menjadi semacam pembenaran pada fase pencarian identitas. Hal yang ironis karena Kurt, kamu tahu, Nak, adalah seorang yang gagal melewati masa mudanya. Pada suatu pagi di awal April tahun 1994, seorang tukang listrik menemukan tubuhnya sudah tidak bernyawa lagi dengan lobang peluru di rumahnya di Lake Washington. Kurt diperkirakan tewas beberapa hari sebelumnya. Tapi “kematian” Kurt sendiri mungkin sudah bermula dari sejak lama, dari sejak ia gemar meneriakkan kepedihan dan frustrasi di lagu dan musiknya yang penuh distorsi.
Meski demikian, grunge tetap menemukan jalan untuk sampai kepada pendengarnya. Grunge adalah semacam tarikat yang akan mengantarmu untuk berani berbeda dan membuatmu yakin bahwa kita tidak harus selalu menjadi mainstream. Menjadi riak-riak kecil yang berbeda jalur pun tak apa-apa buat kesehatan jiwa.
Itulah perkenalanku dengan grunge. Hingga pada suatu hari, seorang kawan meminjamkan sebongkah kaset bersampul warna merah pudar. Kaset yang nyaris kusut akibat keseringan diputar. Ten. Dinyanyikan oleh sebuah grup band yang namanya mirip kudapan pagi hari. Pearl Jam.
Dari situlah aku mengenal seorang pria bernama Eddie Vedder. Tak terhingga hormatku kepada Pearl Jam keseluruhan, namun Eddie Vedder tak dipungkiri harus aku beri tempat yang istimewa di hatiku. Melalui Eddie-lah semangat grunge itu mencapai pembakaran oktan tertinggi.
Aku kemudian mengais informasi apa pun tentang Eddie. Saat itu tidak banyak cara untuk tahu tentang seseorang. Tak ada internet, dan majalah hanya segelintir dan datangnya selalu telat ke kota kecil kami. Hanya di sebuah lembaran usang majalah HAI, aku baca bahwa pemuda ini pernah menjadi tukang cuci piring dan tidak begitu mengenal ayahnya. Nama Vedder di belakang namanya adalah nama turunan dari garis ibunya.
Eddie Vedder dan Pearl jam akhirnya membawaku kepada titik ekstrim fanatisme, hanya ada dua grup band di dunia: Pearl Jam dan selain Pearl Jam.
Dan kini, Nak, dengan segala hormat kepada grup band lain, susunannya masih belum berubah banyak. Mungkin ada 3 grup band di dunia ini, mungkin 4, 5, atau 6. Tapi selalu ada Pearl Jam di situ.
Sub-Commandante Marcos, pemimpin Zapatista yang termasyhur itu dalam salah satu suratnya menulis: kita hanya bisa berbahagia selama terus memperjuangkan apa yang kita yakini benar. Aku ulangi, Nak: apa yang kita yakini benar. Kita. Dan bagiku, Pearl Jam adalah Zapatista bagi musik.

Pearl Jam dan Eddie Vedder sendiri adalah simbol perjuangan pada tafsir kebahagiaan. Tahun 1994 Pearl Jam mengeluarkan antitrust terhadap dugaan monopoli yang dilakukan promotor konser, Ticketmaster. Perkara ini dimenangkan Ticketmaster dan membuat Pearl Jam tidak bisa tampil di venue besar di seluruh Amerika. Tak mengapa bagi Pearl Jam. Mereka tetap bahagia bisa berada di sisi para penggemar yang membeli tiket dengan uang terakhir yang mereka punya. Sebagai influencer, Pearl Jam juga bersuara keras menentang perang. Beberapa kali Pearl Jam dengan terang-terangan menunjukkan kebenciannya kepada Presiden Bush yang mereka anggap sebagai pemicu perang.
Lalu di salah satu program talk show Jimmy Fallon, Eddie Vedder muncul bernyanyi “Balls in Your Mouth“. Lagu ini merupakan bentuk penentangannya terhadap ekplorasi minyak lepas pantai yang mencemari laut.
The oil spill, by BP
Has left tar balls, all over the sea
So don’t go swimming, down in the south
unless you want, tar balls in your mouth..

Meski begitu, Nak, aku bukan fans babi buta. Tidak semua yang mereka anut harus aku anut juga. Eddie Vedder mendukung legalisasi aborsi, sementara aku tidak. Tidak harus selalu bersepakat, bukan?
Nah, itulah semangat grunge.
(tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Pearl Jam Indonesia 2012)



May 1st, 2012 at 5:46 pm
Wah, sudut pandang cerita yang bagus banget. Saya dukung untuk menang… Keep on rockin’ in the free world…
May 3rd, 2012 at 12:18 am
aku suka goregrind kaka.
scream dan growl deathcore adalah yang paling mudah.
Gua share suara gua ya kaka’.maklum kalo rada ancur dikit.
http://www.youtube.com/watch?v=S8lrcgdMfGY
May 3rd, 2012 at 3:33 pm
wah,,,semoga menang ya,,selalu mengikutsertakan anak tercinta ya..^_^
May 3rd, 2012 at 6:34 pm
Saya suka semangat ini ” apa yang kita yakini benar “..
May 10th, 2012 at 11:18 am
inspiratif tulisanya gan, lanjut terus
May 15th, 2012 at 8:26 pm
haddeh…kalo bapak sudah ikut, saya percaya saja..:D
btw, soal kata “Mohammad” di lagu itu, menurut analisa teman-teman itu merujuk ke Mohammad Ali, karena kalo merujuk ke Muhammad SAW maka pengucapannya pasti Mohammed, bukan Mohammad..
tapi ya tetap jadi perdebatan sih..:D
May 17th, 2012 at 4:55 pm
Semoga Grunge tetap eksis seperti dulu kala. Semoga sukse. Mohon beri komentar pada tulisanku yang ini ya.- Grunge, Pearl Jam, Masa dulu dan kini
May 18th, 2012 at 11:38 am
Sebagai penikmat musik,dan sebagai pecinta Grunge,saya sangat terkesima dengan artikel ini..Vedder sendiri saya pilih sebagai salah satu vokalis terbaik di dunia..
Grunge Never Die