Kaleng Susu Dua Lubang

27 Jun 2012


Aku bertemu Bu Atik sudah lama. Kira-kira hampir setahun yang lalu. Pada suatu pagi yang berkabut di bulan November, aku mengikutinya mendaki ke sebuah dataran tinggi di pedesaan di Lembang, Jawa Barat. Nafasku lumayan terengah-engah saat itu. Aku bahkan bisa melihat uap-uap air meluncur dari mulutku seperti di film-film Rusia. Namun Bu Atik tetap berjalan seperti tak terganggu.

Pagi itu aku menemaninya mengunjungi kandang sapinya. Sebenarnya bukan sapinya, melainkan sapi orang lain yang dipercayakan untuk diurus olehnya. Dua ekor sapi yang begitu setia menghasilkan susu. Pagi dan sore.

Bu Atik belum terlalu tua. Berdasarkan KTP, umurnya belum mencapai 40 tahun. Dia punya seorang anak lelaki yang duduk di bangku kelas 8 SMP. Namanya Aldi. Si bocah inilah yang menjadi alasan Bu Atik menembus dingin pagi hari, bangun di kala ayam pun masih tidur, mencangkul di ladang orang, dan pegal jari-jarinya mengurut puting susu sapi-sapi perahannya.
Bu Atik dulu pernah punya suami, yang kemudian meninggalkannya begitu saja saat Aldi baru tujuh bulan di kandungan.

Setelah membersihkan kandang dan memandikan sapinya, Bu Atik mengambil dingklik dan duduk di antara kaki sapi. Sedikit demi sedikit, cucuran air susu meluncur ke ember plastik yang ditaruh tepat di bawah perut si sapi perah. Setelah cairan putih di ember plastik penuh, tibalah saatnya untuk dituang ke wadah lain. Sebuah kaleng aluminium berbentuk botol raksasa. Kita menyebutnya milk can.

Sepenuhnya dua milk can berukuran masing-masing 15 liter itu, bergeraklah kembali kami ke bawah bukit. Di pagi hari yang sudah ditentukan jamnya, sebuah truk tangki akan masuk ke kampung untuk menjemput susu-susu hasil perahan orang-orang sedesa untuk selanjutnya dibawa ke pabrik pengolahan.

Dan dari sanalah kisah ini bermula, Nak. Kisah tentang sekaleng susu.

Saat kamu lahir, bahkan jauh sebelumnya, kami sudah bertekad untuk tidak memberimu susu buatan pabrik. Yang boleh masuk ke tubuhmu hanyalah apa yang dihasilkan oleh ibumu. Kamu anak manusia, bukan anak sapi, begitu pikir kami saat itu. Dan sebagaimana niat mulia lainnya, usaha ini tidaklah mudah. Ibumu harus rela berhenti dari pekerjaannya hanya agar bisa mengkhidmatkan dirinya untukmu. Dia bertekad akan selalu hadir di sampingmu saat kau butuh makan dan minum. Enam bulan kami berhasil melewatinya. Betapa senangnya kami. Kamu anak ASI eksklusif.

Lalu masalah kecil mulai muncul. Suatu hari kami membawamu ke dokter karena beratmu tidak juga bertambah setelah sekian lama. Stagnan. Dokter bilang tidak ada masalah pada kesehatanmu, hanya saja kamu mungkin terlalu tergantung pada ASI. Asal kamu tahu, Nak, kamu menyusu sampai usia dua tahun, sampai batas yang dianjurkan agama. Dan itu, menurut dokter, mempengaruhi pola makanmu. Kamu memang minum susu UHT kotak kemasan kecil, tapi yah sesukamu saja. Itu tidak membuat jarum timbangan bergerak ke kanan sesuai harapan WHO.

Kamu sehat, aktif dan suka lari-lari, tapi miris juga melihatmu agak kurus begitu. Apalagi kalau membandingkan dengan diriku yang agak montok. Rasanya tidak adil saja kami sebagai orang tua.

Lalu mulailah aku mengorek-orek kenangan tentang apa yang mungkin membuatku bisa sebesar ini. Apa yang aku makan ketika aku kecil? Apa yang aku minum ketika aku kecil?
Oh, mungkin sebuah stoples kecil di rak atas lemari dapur bisa memberi jawaban. Itulah stoples tempat ibuku selalu menyimpan sekaleng susu cap bendera. Selalu bendera. Pernah beberapa kali muncul gambar lain, semisal nona muda menjunjung sesuatu, tetapi pada akhirnya selalu kembali ke gambar bendera. Kaleng yang di sekelilingnya sengaja digenangkan air agar semut tak masuk dan berenang-renang di dalam susu. Di mulut kaleng kami buat sebuah lubang kecil yang ditusuk menggunakan pisau. Lubang kaleng itu sengaja dibuat kecil sehingga kami harus kuat-kuat memijitnya agar mendapat takaran yang diinginkan.

Pada suatu hari, aku yang baru saja belajar Ilmu Alam di Sekolah Dasar mendapat pengetahuan bahwa membuat dua lubang di mulut kaleng niscaya akan menyebabkan susu bisa mengalir lebih cepat dan banyak ke dalam gelas tanpa harus dipijit. Itulah keajaiban hukum tekanan dan mekanika fluida. Namun pada akhirnya, aku dan saudara-saudaraku hanya boleh membuat satu lubang pada mulut kaleng setelah pada suatu ketika, entah salah siapa, karena dua lubang dan faedah hukum tekanan itu, semua isi kaleng sudah berpindah ke dalam gelas karena kami lengah meninggalkannya beberapa saat saja.

Dan tadi malam, Nak, sepulang dari kantor, sengaja aku mampir ke warung untuk membelikanmu susu kaleng bergambar bendera itu. Kamu bukan lagi bayi, sudah boleh dan halal meminum susu kaleng seperti ayahmu dulu. Aku pikir inilah inovasi dari pembuat susu kaleng ini, yaitu dengan tetap membiarkan kemasannya seperti itu. Memang sudah ada kemasan plastik yang lebih praktis, tapi entah kenapa kemasan kaleng ini lebih menarik hatiku. Mungkin karena di dalamnya ada nostalgia, ada kenangan saat kami belajar bertumbuh bersama dengan gembira.

Seperti tahun-tahun lampau, kami butuh ujung pisau atau sendok untuk membuat lubang. Barangkali juga nanti kita akan masukkan ke stoples dan menggenangi kalengnya dengan air sehingga kita bisa menonton semut-semut yang berusaha memanjat seperti leluhur mereka dulu.

Mudah-mudahan cairan putih manis di kaleng ini bisa membantumu menambah berat badan. Dan kalaupun tidak, setidaknya, melaluinya kita bisa kembali mengingat hal-hal kecil. Seperti halnya aku yang berusaha membuatmu montok dan sehat, begitupun Bu Atik yang ingin membuat Aldi senang dan bahagia. Setetes dua tetes dari perahan Bu Atik setiap hari, mungkin inilah yang kini jadi sekaleng susu di hadapan kita.

Dan untuk menghormati perjuangan Bu Atik, mari kita bikin dua lubang di kaleng susu ini.

(entri blog ini diikutsertakan dalam Kontes BlogSusu Inovasi yang Sehat dan Halal untuk Pertumbuhan Anak” kerjasama Blogdetik, LPPOM MUI dan Frisian Flag)


TAGS Susu Inovasi Yang Sehat dan Halal Untuk Pertumbuhan Anak


-

Author

Follow Me


Categories

Archive