Suaka bagi Hal-hal Baik

27 Jun 2012


Suatu siang di belantara Jakarta, sebuah mobil box melintas di hadapanku dan tiba-tiba saja berkelebat ingatan tentang kampung halamanku. Tulisan di badan mobil itu pemicunya. Tertulis di situ bahwa perusahaan pemilik kendaraan itu akan memudahkan kita untuk mengangkut barang bila ingin pindah rumah atau kantor. Tinggal telepon atau klik alamat yang tercantum, dan petugas akan segera datang membawa kardus untuk mengemas barang-barang kita. Kita tinggal menonton dan menyediakan minum bila ikhlas. Biayanya hanya Rp100.000 per meter kubik, katanya.

Waktu aku kecil, karena menolak belajar menyanyi, aku desersi dari sekolah TK. Jadi pekerjaanku setiap hari hanya nongkrong di teras rumah sambil menemani nenekku menjemur pakaian. Bapak dan ibuku di sepagi itu sudah berangkat ke kantor. Aku senang duduk di teras rumah. Anak-anak SD yang lebih tua dariku banyak yang lewat di depan rumah bila ingin berangkat ke sekolah. Aku suka melihat mereka. Apalagi duduk di tangga batu di pagi hari membuat bokong terasa sejuk.

Tangga batu itu seolah menjadi sekolah pertamaku, Nak. Di situlah aku belajar mengamati orang-orang dan kejadian. Beberapa bahkan tampak sangat absurd. Pernah suatu kali aku seperti melihat sebuah balon Zeppelin melayang-layang di atas bubungan rumah dan di lain hari tampak hamparan bunga matahari dengan batang yang tinggi di halaman rumah. Ini murni ilusi, karena yang tumbuh di halaman rumah hanyalah tanaman lengkuas yang bentuknya tidak lebih indah dibanding jempol kaki.

Namun kejadian yang satu ini aku jamin bukan halusinasi. Umurku boleh muda, tapi mataku masih oke saat itu, tak seperti sekarang di mana minus 2,5 kanan dan 1,5 di kiri mendera mataku.

Saat melakoni rutinitasku duduk di teras rumah, tiba-tiba terdengar suara ribut dari ujung jalan. Suara seperti orang-orang yang berlomba berbicara dan tapak-tapak kaki yang dipaksa beradu dengan aspal lebih keras dari biasanya. Lalu muncullah pemandangan yang sangat menakjubkan bagi mata beliaku.
Sebuah rumah –iya, rumah yang lebih besar dari yang kita tinggali sekarang tampak digotong beramai-ramai. Di kampung kami saat itu, rumah semua orang adalah rumah panggung. Rumah papan dengan beberapa tiang kayu yang menopangnya. Belum banyak yang memiliki rumah batu permanen.

Aku nyaris terlonjak. Pikirku saat itu, seorang telah berbuat salah dan rumahnya akan dibuang oleh warga kampung sebagai hukumannya, seperti kita yang anak kecil merusak rumah-rumahan kawan bila kesal kepadanya.

Ah, rupanya ada yang pindah rumah dari kampung sebelah. Iya, pindah rumah ini adalah betul-betul memindahkan rumah. Sedinding-dindingnya, seatap-atapnya. Puluhan orang berderet berbaris, berjalan seirama selangkah demi selangkah, dan hanya sesekali berhenti untuk membereskan ikatan sarung. Mereka semua menopang bambu atau kayu-kayu panjang yang dilintangkan di bawah lantai rumah. Dan begitulah rumah panggung besar itu bergerak seperti daun yang dikerek beramai-ramai oleh kumpulan semut.

Di kemudian hari, guruku di Sekolah Dasar menjelaskan bahwa itulah yang disebut dengan gotong royong. Ketika ada orang yang membutuhkan bantuan, semua orang datang membantu tanpa pamrih. Tak bisa kita bayangkan, Nak, berapa uang yang harus dikeluarkan oleh si pemilik rumah bila harus membayar Rp.100.000 per meter kubik.

Ketika himpitan hidup semakin keras, kita seringkali lupa apa arti hidup bersama. Kampung-kampung berkembang frantik, gila-gilaan. Frasa gotong royong, saling membantu, sama rata sama rasa, nyaris tak punya makna lagi. Hampir terlupakan seperti kata purba. Sekarang, semua memang bisa tetap sama, asal ada harga. Kita tetap bisa memindahkan satu gedung sekalipun, asal mau mengeluarkan uang. Setidaknya, inilah yang aku rasakan setelah bertahun-tahun tinggal di Jakarta.

Sering muncul angan-angan konyol, agar sebuah tempat seperti kampungku itu tak usah saja berkembang terlalu cepat. Biarlah dia tetap seperti itu, menjadi suaka bagi hal-hal baik. Bahkan mungkin lebih baik lagi bila tak perlu berkembang sama sekali bila berkembang berarti harus menyingkirkan sesuatu. Mungkin hal-hal kecil semisal tak bisa lagi menonton bersama pertandingan tinju Mike Tyson di rumah Pak RT karena semua orang sudah punya TV. Di mal, kita memang masih bisa menonton sepakbola bersama, berteriak dan merasakan spirit kolektif, tapi ya harus bayar.

Lalu, apakah kita berubah sebagai bangsa? Mari berharap semoga tidak. Sudah pasti naif bila kita ingin agar film kamera tetap hitam putih dan tak pernah menjadi berwarna, atau prosesor tetaplah selalu 486 agar semua menjadi lamban dan bersahaja. Karena tumbuh dan berkembang adalah keniscayaan.

Lalu siapa yang akan menjaga hal-hal baik itu? Hal yang sering dengan semangat berapi-api kita sebut sebagai ciri khas masyarakat yang paling Indonesia?

Entahlah. Tapi jangan berputus asa dulu sebelum kau dengar ceritaku ini.

Suatu ketika, aku pulang ke kampung halamanku. Kali ini sebagai seorang perantau yang cukup berhasil bertahan di tanah orang. Kampungku sudah banyak berubah. Jalanan yang dulu pernah dilalui orang-orang yang menggotong rumah, kini sudah beraspal bagus. Tangga batu singgasanaku pun sudah tak ada lagi.

Dan sebelum pulang kembali ke Jakarta, selalu aku menyempatkan diri menziarahi makam ayahku. Di situlah aku selalu merenungi nasehat-nasehat ayahku dan sekaligus mengenang kenakalan-kenakalanku. Bila sempat tinggal cukup lama, sering aku memperhatikan betapa areal makam itu cepat sekali berkembang. Makam ayahku dulu ada di deretan pinggir dan mudah saja mencapainya, tapi kini untuk sampai ke sana rasanya semakin jauh dan harus melewati banyak makam. Ada banyak makam yang tidak terawat dan ditumbuhi alang-alang. Mungkin sudah lama tidak diziarahi.

Suatu hari, aku bertemu seorang pria tua di areal pemakaman itu. Dia tampak sibuk membabat ranting dan alang-alang yang tumbuh melingkupi sebuah makam. Aku mengenal dia sebagai orang yang sering mengajari anak-anak kecil mengaji di masjid. Dia pun mengenaliku sebagai anak dari orang yang makamnya aku ziarahi. Iya, dia mengenal ayahku. Sore sudah hampir habis ketika itu.

Sebagai tanda penghormatan, aku menyapanya dan mengajaknya ngobrol. Sejenak dia menghentikan kegiatannya membabat alang-alang.
“Itu makam siapa, Pak?” tanyaku.
“Yang mana? Yang ini?” Dia menunjuk makam yang ada di hadapannya.
“Iya.”
“Saya juga tak tahu,” katanya sambil tersenyum. “Saya hanya membantu membersihkannya”

Aku terkesiap. Serasa runtuh semua anggapanku tentang pamrih. Malu rasanya, aku yang hanya beberapa tahun tinggal di kota yang seringkali berlaku tidak adil kepada warganya, juga terbawa-bawa berlaku tidak adil dalam pikiran tentang banyak hal. Aku sempat berpikir bahwa semua transaksi selalu dinilai secara ekonomi.
Aku lalu teringat kepada seorang pelancong Eropa yang menyatakan alasan utamanya mencintai Indonesia. Banyak negara telah dikunjunginya tapi Indonesia adalah negara yang paling menyenangkan baginya. Orang Indonesia baik hati, katanya.

Baik hati. Konsep macam apakah itu?
Aku pun mungkin akan bertanya seperti itu andai tak dipertemukan dengan pria tua di areal makam itu. Seorang pria yang mungkin tak memahami benar konsep geografis kenegaraan, tetapi telah menyediakan dirinya menjadi suaka bagi hal-hal baik.

(tulisan ini dikutsertakan dalam “Lomba Blog Paling Indonesia”)


TAGS


-

Author

Follow Me


Categories

Archive