Jaringan Mading Krucil Indonesia

19 Jun 2013

Anak ibu kos saya, seorang mahasiswi semester 4, cantik dan pintar. Saya lihat dia jarang di rumah. Kebetulan kemarin pas lagi buka pintu, saya lihat dia sedang sibuk nyuci mobil di halaman. Saya ajaklah ngobrol-ngobrol. Saya tanya sibuk ngapain aja. Ternyata selain kuliah, dia juga ngasih les ke anak-anak SD dan SMP di sekitar rumah. Pantesan sering saya lihat banyak sepeda anak-anak terparkir di halaman. Itu murid-muridnya, rupanya. Dia ngajar Matematika sama Bahasa Inggris.

Wah hebat, pikir saya, karena saya bego Bahasa Inggris dan Matematika. Padahal dulu waktu masih di kampus, saya sering ngumpulin anak-anak kecil di sekitar kampus terus ngajar mereka apa saja. Kalau saya nggak menguasai materinya, saya ajak teman-teman lain untuk ngajar. Dulu ada Budi Zulkifli, Fajar Wela, Dien, Fauziah, dan banyak lagi teman yang suka membantu. Mereka dulu bikin semacam Sekolah Rakyat. Baguslah, pokoknya. Di sekitar kampus banyak anak-anak yang putus sekolah yang butuh ilmu.

Anak ibu kos saya ini, mengingatkan saya kepada kawan-kawan lama saya dulu. Mungkinkah mengajak mereka lagi?

Nggak tau. Mungkin sudah susah. Budi, Fajar, dan Dien sekarang pasti sudah sangat sibuk. Budi jadi presenter TV, Fajar dan Dien sekarang jadi dokter, Fauziah jadi dosen.

Terus saya tanya ke anak ibu kos saya ini, ada berapa orang muridnya.

“Lumayan banyak, Om,” katanya. Oh dia manggil saya Om, mengingatkan saya pada betapa jauhnya jarak usia kami.

“Ada apa gitu, Om?” tanyanya lagi. Oh dia masih memanggil saya Om.

Lalu Om ini berceritalah tentang sebuah keinginan yang terpendam sekian lama.

Begini ceritanya.

Sering kalau pulang kerja, saya melewati kumpulan anak-anak remaja yang nongkrong di pinggir jalan. Dengan mudah saya tahu bahwa mereka –kalau sekolah– pasti anak SD atau SMP. Nggak laki nggak perempuan, banyak di antara mereka yang merokok, ngomong jorok, dan sebagainya. Suka sedih sih melihat mereka, apalagi kalau ingat saya juga punya anak laki-laki yang tidak terlalu jauh usianya dengan mereka.

Di lain waktu, saya juga sering menjumpai kumpulan anak-anak yang serius belajar. Ya seperti murid-muridnya anak ibu kos saya ini.

Dua kelompok anak-anak itu seperti punya mazhab sendiri. Terpesona pada lingkungan sendiri-sendiri.

Kemudian terpikir, apa yang bisa saya lakukan untuk mengumpulkan mereka? Setidaknya membuat mereka saling memahami keberadaaan masing-masing.

Lalu muncullah ide untuk membuat mading. Iya mading: majalah dinding.

Istri saya tertawa waktu saya ceritakan soal ini. “Orang sudah jaman digital, Ayah kok baru mau bikin mading. Aneh,” kata istri saya.

Benar. Ini mungkin akan tampak aneh. Siapa yang akan peduli pada sebuah selembar karton manila berisi coretan puisi dan tulisan anak-anak yang ditempel di dinding?

Tapi ini yang saya pikirkan. Saya akan mengumpulkan sebanyak mungkin anak di sekitar rumah saya, lalu akan saya kasih pelatihan menulis dan jurnalistik dasar. Saya punya banyak teman yang jago dalam hal ini, jadi ini perkara mudah. Mereka pasti mau membantu saya menyumbangkan pengetahuannya. Tarolah pelatihan dua hari di akhir pekan.

Setelah itu, anak-anak ini akan saya bagi dalam beberapa kelompok. Satu kelompok 5 sampai 6 orang. Bebas. Yang masih SD dan SMP boleh digabung. Tapi kalau bisa, di dalam satu kelompok itu ada yang beda sekolah. Menurutku ini penting untuk mengajarkan nilai kontra-chauvinism sejak dini.

Tiap kelompok itu kemudian bertanggung jawab untuk menerbitkan sebuah mading setiap 2 minggu sekali. Isinya cerpen, puisi, dan tentang apa saja yang terjadi di lingkungan mereka. Penimbangan posyandu di kelurahan, sunatan masal, jadwal fogging, atau berita ibu tukang sayur yang tidak lagi berjualan karena sedang sakit sehingga perlu dibantu sama-sama.

Intinya, melalui mading yang mereka kelola sendiri, mereka belajar untuk mengamati lingkungan dan menuangkan pikirannya mengenai apa yang dilihatnya itu. Barangkali juga mereka bisa menawarkan solusi khas anak-anak yang tidak terpikirkan oleh orang dewasa.

Lalu kenapa harus mading? Kenapa tidak pakai sarana yang lebih canggih, seperti koran beneran atau website.

Bagi saya, jawaban pertanyaan ini agak personal. Tapi izinkanlah saya menuliskannya di sini, sapa tahu masih masuk akal…

Saya memulai “karir” di sebuah mading sekolah bernama “Siluet” dan “Hitam Putih”. Itu saat saya SMA. Ini mading yang kami buat sendiri karena sekolah tidak menyediakan. Saat itu saya juga sering menulis untuk koran lokal, tapi entah mengapa saya lebih bersemangat ketika menulis di mading. Ada perasaan yang membebaskan saat melihat tulisan yang ada bekas lemnya. Jejak-jejak jerih payah lebih tergambar jelas. Halah! :-)

Memasuki bangku kuliah, saya juga berkecimpung di sebuah mading. Namanya “Acta Diurna”. Mading ini ditempel tepat di depan sekretariat himpunan mahasiswa. Isinya kabar-kabar seputar dunia kemahasiswaan. Sekian tahun kuliah, saya nyasar di dunia pergerakan. Saya bergabung dengan sebuah lembaga mahasiswa universitas yang kerjanya demo melulu. Kami bikin tabloid, zine, pamflet, selebaran, atau apapun yang bisa bisa membuat orang marah. Kami juga punya majalah dinding yang ditempel di jalur lalu lintas mahasiswa pulang pergi. namanya “Baca Baca Berdiri”. Isinya tak jauh beda dengan saudara-saudaranya. Saking provokatif-nya mading ini, sampai-sampai sering dirusak oleh pembaca. Itulah sebabnya kami tidak pakai kaca untuk membingkai mading seperti biasa, melainkan kawat kasa nyamuk.

Hingga kemudian tensi pergerakan mulai menurun, mading legendaris itu masih tetap di situ. Orang-orang tetap lalu lalang namun mulai mengabaikannya.

Terperosok di lembah mading, membuat saya belajar tentang semangat. Saya berharap kita pun bisa mewariskan semangat yang sama. Semangat tentang belajar tanpa henti, keras dan lembut bila perlu, dan yang paling penting: rendah hati.

Saya mengalami mading yang saya bikin dipuji-puji, tapi saya juga mengalami tulisan saya dicemooh dan dimaki. Saya mengalami orang-orang berkerumun di depan mading saya, tapi saya juga mengalami saat orang-orang lewat begitu saja seolah-olah tak ada mading di situ.

Bila sekiranya nanti proyek mading anak-anak ini berjalan, para kru cilik (krucil) mading ini mungkin akan belajar seperti kita dulu belajar. Mereka akan belajar menerima kegembiraan dan sekaligus mengatasi kekecewaan bila yang terjadi tak sesuai harapan.

4cc2a0df4c2ebfaaa14128f06a549b16_mading

Lalu kenapa saya menulis begini panjang untuk sekadar ngoceh tentang mading?

Kata orang pandai, ide paling buruk adalah ide yang tidak dilaksanakan. Dan ide yang paling baik adalah ide yang dibagi. Sehingga untuk mengamini para orang pandai, saya mencoba mengajak teman-teman saya. Sekiranya ada sedikit hal yang benar dalam ide saya ini, sudilah kiranya teman-teman saya yang baik hatinya ini untuk turut.

Mungkin kita bisa bersama-sama melaksanakan proyek ini. Coba kumpulkan 5 atau 6 orang anak usia SD dan SMP di sekitar rumah teman-teman sekalian. Anak-anak yang putus sekolah juga boleh. Lalu kita “provokasi” mereka untuk membuat mading sendiri. Teman-teman bisa menjadi mentor mereka, atau kalau sekiranya teman-teman butuh mentor untuk pelatihan dasar mereka, saya akan coba carikan orang yang berkompeten di sekitar tempat tinggal teman-teman untuk memberi pelatihan menulis dan jurnalistik gratis.

Tugas teman-teman adalah membimbing, mengajari, dan yang paling penting, menjaga semangat mereka.

Bayangkan, kalau nanti proyek ini sudah jalan, Jaringan Mading Krucil Indonesia (JMKI) ini akan jadi jaringan media terbesar di Indonesia. Hehehe.

Yang mau bergabung dalam proyek ini, terserah mau jadi mentor atau menyumbang ilmu, inbox saya atau email: fauzanmukrim[at]gmail[dot]com.

Yuk kita mulai bareng-bareng. Ditunggu. :-)

salam,

Fauzan Mukrim a.k.a Ochan

“Salah satu cara untuk berbahagia adalah dengan terus memperjuangkan apa yang kita yakini benar” –Subcomandante Marcos


TAGS


-

Author

Follow Me


Categories

Archive