Madiba: Cerita dari Depan Rumah dengan Batu Bata Merah

6 Dec 2013

Maafkan ingatan ayahmu yang lemah ini, Nak. Harusnya bisa saja aku menjadikan tulisan ini seperti tesis mahasiswa, lengkap tahun dan tanggal, dan penuh pesan dan data di sana-sini. Tapi rasanya bukan itu yang lebih kau butuhkan sekarang. Google dan Wikipedia sudah menyediakan semuanya, apapun yang ingin kamu tahu tentang Madiba.

Sekiranya kamu ingin tahu sedikit tentang Madiba, dia adalah sosok yang nyaris lengkap untuk dijadikan lambang perlawanan. Dia santun, namun bukan berarti lemah. Dia penuh welas asih, namun juga bisa menyimpan kemarahan.

Bulan Juli lalu, ia dikabarkan masuk rumah sakit. Kuli media dalam dan luar negeri sibuk. Sebuah kantor berita asing bahkan sudah menyewa apartemen di Johannesburg sejak bertahun-tahun sebelumnya untuk berjaga-jaga apabila sewaktu-waktu Madiba wafat.

Saat itu bosku pun menugaskan aku untuk membuat berita tentang Madiba. Ini draft naskah yang aku buat:

SLUG: NELSON MANDELA

DUR: 3′

LEAD

TBA


PKG

NELSON MANDELA ADALAH NAMA BESAR DALAM SEJARAH AFRIKA SELATAN// TERLAHIR DENGAN NAMA ROLIHLALA MANDELA/ DI MVEZO/ TRANSKEI/ PADA 18 JULI 1918/ MANDELA ADALAH ORANG PERTAMA DALAM KELUARGANYA YANG MENEMPUH PENDIDIKAN FORMAL//

NAMA DEPAN NELSON/ ADALAH PEMBERIAN DARI SEORANG GURUNYA// PADA UMUR 16 TAHUN/ MANDELA MASUK KE CLARKEBURY BOARDING INSTITUTE UNTUK MEMPELAJARI KEBUDAYAAN BARAT//

MANDELA JUGA SEMPAT BELAJAR DI FORT HARE UNIVERSITY SEBELUM KEMUDIAN DIKELUARKAN KARENA MENENTANG KEBIJAKAN UNIVERSITAS// SETELAH ITU/ MANDELA PINDAH KE JOHANNESBURG DAN MELANJUTKAN KULIAH DI UNIVERSITY OF SOUTH AFRICA//

TAHUN 1942/ MANDELA BERGABUNG DENGAN AFRICAN NATIONAL CONGRESS/ A-N-C// DI SINILAH MANDELA MULAI MENGASAH PENENTANGAN DAN PERLAWANANNYA TERHADAP SISTEM YANG TIDAK ADIL// YANG PERTAMA DAN PALING DIA TENTANG ADALAH POLITIK APHARTEID//

APARTHEID ADALAH SEBUAH SISTEM PEMISAHAN BERDASARKAN RAS DAN WARNA KULIT YANG DIJALANKAN OLEH PEMERINTAH KULIT PUTIH DI AFRIKA SELATAN SEJAK AWAL ABAD KE-20// SISTEM INI MENEMPATKAN RAS KULIT HITAM DI BAWAH SUPERIORITAS KAUM KULIT PUTIH//

GAGASAN ANTI-APARTHEID YANG DIPERJUANGKAN MANDELA/ DIANGGAP MEMBAHAYAKAN POSISI PENGUASA KULIT PUTIH// PADA 5 AGUSTUS 1962/ MANDELA DITANGKAP DAN DIPENJARAKAN DI JOHANNNESBURG FORT// DENGAN BERAGAM TUNTUTAN DAN BERKALI-KALI MASA TAHAHAN/ MANDELA AKHIRNYA DIJATUHI HUKUMAN PENJARA SEUMUR HIDUP//

DI PENJARA/ MANDELA JUSTRU BELAJAR HAL YANG PALING PENTING DALAM KEPEMIMPINAN// DALAM KEMARAHANNYA KEPADA REZIM/ MANDELA MENYADARI SATU-SATUNYA JALAN UNTUK MEMPERJUANGKAN KEMERDEKAAN BANGSANYA ADALAH DENGAN PERLAWANAN BERSENJATA//

….

Membuat obituari untuk tokoh yang sedang sekarat sudah menjadi lazim di dunia jurnalistik. Mereka selalu ingin dulu-duluan, bahkan untuk hal yang beginian. Jujur, aku merasa agak tidak nyaman menulis berita serupa obituari untuk orang yang kita tahu masih bernafas, sekalipun sudah dalam fase vegetatif. Skrip berita Nelson Mandela itu tak pernah aku selesaikan. Masih panjang, itu bahkan belum sampai ke bagian kenapa ia dipanggil Madiba.

Hari ini, orang baik itu berpulang. Dia sungguh orang baik. Atas semua perlakuan kasar dan menghinakan, orang selalu mengingat dan mengulang kata-katanya. Memaafkan, tapi tidak melupakan. Itulah yang dia lakukan saat sekeluarnya dari penjara, ia mencari sipir penjara yang pernah mengencingi kepalanya, dan kemudian memeluknya. Ia tidak melupakan. Ia memaafkan.

sumber foto: www.brighttalentedblack.com

Sekitar enam tahun yang lalu, aku mengunjungi rumahnya di Soweto. Itu rumah tempat dia tumbuh dan memulai perlawanannya. Madiba sudah mulai sakit-sakitan saat itu. Aku tak sempat bertemu dengannya, hanya bisa melihat beberapa memorabilia yang masih tersimpan baik. Di depan rumahnya, dua orang anak muda menari meliuk-liukkan badannya. Mempertontonkan keahlian sembari mengharapkan receh. Soweto sudah jauh lebih maju sekarang, meskipun masih tetap tampak kumuh. Jejak-jejak kemiskinan dan ketidakadilan masih terlihat jelas. Dua hal yang mungkin akan menjadi sangat buruk sekiranya Madiba Nelson Mandela tidak tergerak untuk mengubah dan melawannya.

Aku ingat, Nak, saat itu aku pun dalam keadaan yang buruk oleh sebab sesuatu hal. Biasalah anak muda. Nyaris kehilangan mimpi dan semangat. Dan berdiri di depan rumah dengan batu bata merah itu, aku akhirnya dibuat percaya –sekali lagi– bahwa betapa pun kedengaran mustahil, mimpi bisa diperjuangkan. Itulah hal penting yang aku pelajari dari orang tua ini.

Semoga Ilahi, dengan cara apa pun kita menyebutnya, melapangkan tempat kembalinya. Aamiin…


TAGS


-

Author

Follow Me


Categories

Archive